senyum patah
dan lengkungan senyuman itu perlahan turun, membentuk garis lurus, mengatup rapat bibirnya yang tipis. semua kata yang tadinya ada di ujung lidah, kembali masuk, tertelan bersama ludah yang tiba2 terasa pahit.
Tuhan, itu akan terjadi jika aku bertemu dia dimanapun. setelah tawa dia bagikan awalnya, kini tersisa tangis. tapi kami tak lagi bersama. kemarin kami tertawa bersama, ditaman yang kami rawat bersama.
kini,
aku menangis sendiri, di taman kami yang juga mulai sepi. bunga pun merunduk layu, karena tak lagi disambangi kumbang. (atau bunga turut berduka atas sedih yang aku rasakan? atau bunga tunjukkan solidaritasnya????)
biarlah bibir itu tetap terkatup. rapat dalam diamnya. kuburkan semua protes yang hendak terlontar. telah diterimanya semua. dengan dada nan lapang. karena keyakinan pada Yang Maha.
semua yang kualami, yakin aku, adalah kehendakMU. maka aku rela, aku sabar. walau aku diinjaknya begitu rupa, dihinanya begitu nista, dilukainya begitu parah. Yang Maha, kejadian ini, jika memang hukuman dariMu, semoga mengimpaskan semua dosa yang aku cipta. jika cobaan dariMu, semoga menyisakan ketegaran bagiku.
kucoba pahami, bahwa segala susah yang kualami, sesungguhnya adalah pelajaran berharga dariMu. ibarat sebuah tes bagiku. apakah aku benar telah bisa menjadi sabar atau sekedar ingin menjadi sabar???
Yang Maha, jangan henti ajarkan hamba tuk menjadi sabar. kumohon, jangan henti!
April 11th, 2006 at 7:25 am
Hanya dengan sabar memang,kesedihan akan melemparkan kita ke garis kurang dan kebahagiaan akan melemparkan kita ke garis lebih agar menemukan titik tengah…dengan begitu,semoga kita menemukan kehendak Tuhan di dalam kehendak kita sendiri…dan semoga akhirnya kita bisa lulus sebagai manusia.